Get Married

Posted on Oktober 21, 2007. Filed under: resensi |

Category: Movies
Genre: Comedy

film17421.jpg

Dalam minggu2 ini semua bioskop di Malang ‘dikuasai’ oleh film2 Indonesia, tapi sayangnya 3 dari 4 film yang diputar di sana adalah film horor. Seperti kita ketahui bersama, pertengahan puasa kemarin 3 film horor tayang premier hampir bersamaan, yaitu Jelangkung 3, Kuntilanak 2 dan Pocong 3. Nggak tahu kenapa kok para sutradara ini memilih waktu yang bersamaan. Kalau boleh menebak, setidaknya ada 3 sebab kenapa hal itu bisa terjadi, ciee serius banget seeh mbahasnya.

1. Di bulan puasa kan syetan-syetan pada dibelenggu, biar premier-nya sukses para hantu itu mutusin untuk tampil bareng-bareng. Ibarat pepatah: bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Tapi tetep aja mati penasaran :p
2. Mungkin ini sebuah ajang pembuktian di antara para sutradara itu siapa yang paling jago bikin film horor. Ntar yang paling laris ditonton, nraktir yang lain makan di kuburan :p
3. Jangan-jangan para sutradara itu sebenarnya takut dihantui ama karakter yang mereka angkat sehingga mereka mutusin untuk janjian aja pas bikinnya ha ha ha

Kok aku jadi mbahas film2 horor itu ya? Sorry2, mari kita kembali ke topik utama review kali ini. Alasan utama kenapa aku lebih memilih nonton Get Married adalah bukan karena aku ‘sentimen’ ama film2 horor di atas. Kebetulan aja novel ke-2 yang sedang kutulis itu genrenya komedi, biar makin dapet mood-nya tentu aku harus mengonsumsi segala hal yang berbau komedi. Amat sangat tidak nyambung jika aku tetap nekat nonton film horor, bisa-bisa aku ketularan bikin novel horor. Atau yang lebih parah lagi, aku jadi nggak berani ngetik sendirian di malam hari karena kebayang2 terus ama filmya hiiii (ketauan deh kalo penakut)

Get Married berkisah tentang persahabatan seorang cewek bernama Maemunah (Nirina Zubir) dan 3 cowok bernama Beni (Ringgo Agus R), Eman (Aming) dan Guntoro (Desta Clubeighties). Mereka berempat punya problem yang sama, dipaksa ortunya menempuh pendidikan yang nggak sesuai dengan cita-cita mereka hingga akhirnya setelah lulus malah jadi pengangguran dan stress berkepanjangan ha ha ha. Apakah ini gambaran umum anak-anak muda di Indonesia?
Masalah timbul ketika ortunya Mae (Meriam Belina cocok juga jadi istrinya Jaja Miharja) memutuskan untuk segera menikahkan Mae karena mereka udah nggak kuat lagi menanggung biaya hidup anak gadisnya itu. Seperti kisah-kisah perjodohan klasik lainnya, maka ditampilkanlah calon2 yang konyol dan jauh dari harapan si Mae. Sampai kemudian datanglah sang pangeran bernama Randy (Richard Kevin) yang berhasil mengetuk hati si gadis tomboy itu. Tapi di lain pihak, 3 sahabatnya Mae rupanya masih belum rela jika harus kehilangan Mae sehingga dengan ‘terpaksa’ mengeroyok Randy dan melarangnya berhubungan dengan Mae.
Masalah makin pelik ketika Ibunya Mae tiba-tiba jatuh sakit karena perjodohan yang gagal mulu dan mengancam bakalan mati penasaran jika Mae nggak segera kawin. Nah, siapakah yang akhirnya dipilih Mae untuk menjadi pendampingnya? Lebih seru kalau kalian cari tahu sendiri jawabannya.

Secara keseluruhan film ini cukup menghibur dan bisa bikin penonton tertawa ngakak saat melihat kekonyolan para tokohnya. Di sini ditunjukkan betapa ribet dan stressnya usaha mencari seorang pendamping itu. Orang tua bahkan rela melakukan apa saja asalkan anaknya bisa lekas kawin. Hanya saja aku nggak mendapatkan sesuatu yang baru dari aktingnya Nirina, Ringgo dan Aming. Melihat akting Ringgo sebagai Beni seperti melihat tokoh Agus di film Jomblo. Demikian juga dengan akting Aming, nggak jauh beda ama aksinya sebagai cowok tulen di Extravaganza. Cieee, lagaknya kayak aktor langganan Oscar aja pake ngritik2 segala. Ya enggaklah, tujuannya kan buat ngasih masukan agar kualitas akting mereka meningkat. Glodak.
Akting paling prima justru ditampilkan oleh pemeran pendukung yaitu Ira Wibowo yang berperan sebagai ibunya Kevin. Aktingnya benar-benar oke, Mbak Ira bisa melebur menjadi seorang ibu yang cerewet, borju tapi tetep nasionalis sampai2 nggak sudi punya mantu bule meski anaknya kuliah di Amrik.

Ya udah, segitu aja review-ku kali ini. Buat kalian yang lagi stress atau sekedar pengin cari hiburan nggak ada ruginya nonton film ini. Khusus buat yang lagi dikejar ‘deadline’ untuk menikah dibutuhkan kebesaran hati saat menontonnya. Karena kalau enggak, bukannya terhibur setelah nonton film ini malah tambah stress. (ehone)

Make a Comment

Make a Comment: ( 2 so far )

blockquote and a tags work here.

2 Responses to “Get Married”

RSS Feed for BloGlodak Comments RSS Feed

Boleh ngritik film ini gak?

1. Lucu asli ni film lu, tapi masih banyak yang bisa dilucuin….misal upaya mencari kerja itu bisa banget jadi guyonan tambahan…satire makin satire kan tuh komedi!

2. Kalo orang pulang kuliah dari State, jadi lupa ama kekerasan????…….apakah sutradara film ini seorang republikan????fanatik amerika??? yakin di state gak ada kekerasan?????
3. Yakin orang yang naek motor bebek selalu jelek? (ketawa gw mulai hilang waktu nirina bilang begitu!, pasal gw juga naek bebek!)
padahal faktanya:
keluarga Mae kan miskin, motor bebek aja gak punya….Karakter mae malah dirusak sedemikian…matre amat ya….
4. Apakah Guru SMP itu pekerjaan yang jelek???mana yang lebih jelek…bekerja menjadi guru atau mengaggur gak juntrung?
5. Jelaskan ke saya apa lucunya kakek yang maen catur melulu?
6. Pernah liat anak gedongan tawuran naek mobil mewah ama naek Harley???…gak keren amat gak realistis…..

emang kalo hanya buat meregang urat syaraf boleh juga nih film ditonton, tapi untuk masuk menjadi film favorit?gw masih lebih suka para pencari tuhan deh..

sori kritik

wah, kritiknya benar2 OK.
beberapa diantaranya juga menjadi pertanyaanku saat menonton film ini.
btw…thanks ya atas kunjungannya :)


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...