Mau Nyoblos Sapa?
Pemilu 2009 sebentar lagi akan kita jelang, sebagai warga negara yang baik tentu saja aku ingin menggunakan hak pilihku. Meskipun suara yang bisa kita berikan hanya satu namun jangan pernah menganggapnya remeh, angka 100 tidak akan diakui lagi meski hanya kurang 0,001 point. Kecuali di matematika yang biasanya dibulatkan ke atas.
Suara yang kita berikan secara tidak langsung akan ikut menentukan bagaimana masa depan Indonesia lima tahun ke depan, apakah bisa tambah maju atau makin ketinggalan dari bangsa-bangsa yang lain.
Para elite politik pun sudah mulai menyiapkan diri semaksimal mungkin agar bisa keluar sebagai pemenang dalam pesta demokrasi tersebut. Tim sukses pun sudah mulai bekerja jauh-jauh hari sebelumnya, seperti kita liat di televisi yang begitu marak oleh iklan-iklan politik baik itu perorangan maupun partai. Tak ketinggalan pula para calon anggota legislatif yang ada di tingkat daerah. Seperti di Malang aja misalnya, bukan hanya di jalan raya bahkan jalan di kampung-kampung kini dipenuhi dengan spanduk bergambar para anggota legislatif wannabe. Di gang masuk, batang pohon, tembok kosong, pokoknya di semua tempat yang sekiranya bisa diliat oleh orang banyak. Foto yang dipasang pun beragam, tapi rata-rata sih mereka berusaha keras untuk keliatan menarik dan berwibawa. Yang laki-laki berpose dan berpakaian segagah mungkin dan yang perempuan berdandan menor banget. Sampai-sampai aku heran, nih orang mau nyalonin diri jadi anggota legislatif apa mau audisi karnaval tujuh belasan sih. Satu hal yang menjadi kesamaan, mereka pada kompakan memakai gambar capres yang sesuai dengan partai mereka sebagai background.
Jujur ya, aku sendiri bingung banget kalau nanti harus memilih salah satu dari puluhan anggota legislatif wannabe itu. Yang paling utama sih karena aku nggak kenal satu pun dari mereka. Tiap hari memang aku melihat foto-foto mereka di jalan tapi hanya selintas lepas. Mana sempat aku ngapalin foto sama nama mereka, mendingan konsen ngendarai motor biar tiba dengan selamat n nggak telat di tempat kerja (tapi kebanyakan telatnya sih).
Kalau memilih capres dan cawapres sih masih agak mendingan karena jumlahnya nggak sebanyak caleg. Trus kita juga bisa mempelajari dulu visi dan misi apa yang akan mereka terapkan jika nanti berhasil terpilih memimpin bangsa ini. Aku sih berharap nanti para caleg itu nanti juga melakukan hal yang serupa. Kalau enggak, mana bisa aku menentukan pilihanku. Masa mau asal nyoblos, mending golput aja kalau gitu he he he.


