“Hayoo, lagi ngelamunin siapaa…” goda Neza pada Tian yang sedari tadi terlihat duduk termenung di depan komputernya.
“Nggak lagi ngelamun kok,” jawab Tian sambil merubah posisi duduknya agar lebih nyaman.
“Trus kalau nggak lagi ngelamun kenapa sampe terbengong-bengong gitu?” Neza lalu duduk di tempat tidur yang seprainya sudah keliatan lusuh karena sudah lama tak dicuci.
“Ini aku lagi pengin nulis blog tapi kok buntu ya. Padahal tadi banyak ide yang melintas di otakku, tapi pas udah ngetik beberapa kalimat gitu langsung buntu.”
“Ya udah rehat aja dulu, jangan dipaksain. Mungkin pikiranmu lagi banyak beban, jadi wajar kalau kamu nggak bisa fokus gitu nulisnya. Oh iya, gimana hubunganmu sama Alia?”
“Its over, dia milih balik lagi sama mantannya.”
“Ooh, iam so sad to hear that,” ucap Neza lirih sambil menepuk-nepuk pelan pundak Tian, berusaha memberi kekuatan pada hati sahabatnya tersebut.
“Jangan kuatir aku baik-baik aja kok. Emang sih sakit tapi aku berusaha liat dari sisi baiknya aja, akhirnya Alia bisa mengambil keputusan yang pasti. Nggak bimbang terus kayak kemarin.”
“Emang kapan penyelesaiannya?”
“Tadi sehabis jam kantor, dia nunggu aku di depan musholla. Awalnya sih aku sengaja nggak keluar-keluar soalnya aku masih marah dan kecewa banget sama caranya mutusin aku. Tapi karena dia nggak pergi-pergi ya udah aku keluar aja. Dia nyapa aku trus kami ngobrol deh. Coba kamu bayangin siapa yang nggak marah kalau sikapnya angin-anginan gitu, ababil banget deh. Pas dia mau pulang ke rumahnya di Malang aku sempatin mampir ke kosannya, ya pamitan baik-baik gitu, malah dia minta pelukan segala. Eh pas malam harinya aku sms nggak dibalas-balas dan besok paginya saat aku telpon yang angkat temennya dan bilang kalau Alia sudah ngasihkan nomernya ke dia. Emang aku bodoh apa yang mau percaya gitu aja.”

“Eh bentar-bentar, temennya bilang kalau Alia ngasihin nomernya ke temennya itu?” potong Neza.
“Iyaa…”
Neza berusaha menawan tawanya namun tak berhasil, membuat Tian mulai bersungut-sungut kesal.
“Kok kamu malah ngetawain sih Nez, emang ada yang lucu?”
“Kamu ingat nggak sih waktu dulu kamu menghindar dari Kayla, kamu pernah kan membalas sms dari Kayla dan mengaku sebagai temenmu biar dia nggak sms lagi. Trus karena dia nggak percaya, kamu nyuruh aku ngangkat telepon darinya. Lalu kita tukeran hape selama seminggu.”

Tian berusaha mengingat-ingat kejadian setengah tahun yang lalu itu, saat dia baru saja putus dengan Kayla, mantannya yang kelima. Waktu itu Kayla tidak mau diputusin dan meneror Tian dengan sms dan telepon yang tak kunjung berhenti.
“Jadi aku kena karma gitu maksudmu?”
“Ya semacam itulah, karma itu kan hukum alam. Kalau kita pernah berbuat sesuatu yang buruk sama seseorang, pasti suatu saat kita akan mendapat balasannya melalui orang lain. Dan sekarang terbukti kan?

Tian hanya terdiam, dari dulu dia tidak pernah percaya dengan hukum karma. Baginya balasan perbuatan para manusia akan diterima di akhirat nanti. Kalau pun ada kejadian buruk yang menimpa itu adalah ujian dari yang di Atas.
“Lanjut lagi maang ceritanya…” celetuk Neza membuyarkan lamunan Tian.
“Aku lalu tanya kenapa dia lebih memilih mantannya, padahal dia sendiri pernah bilang kalau nggak pernah merasa dicintai sedalam aku mencintainya. Dia juga mengakui kalau aku selama ini udah sangat sabar dan pengertian menghadapinya sifatnya yang masih labil dan egois itu. Trus kenapa dia lebih memilih balik sama mantannya yang notabene udah pernah nyakitin dia?”
“Iya ya, aku juga heran sama tuh cewek. Kalau jadi dia pasti lebih milih kamulah. Mungkin karena kmu terlalu kalem kali, yang liar dikit dong jadi cowok.”
“Yeee, justru sebaliknya Nez. Dia tuh jadi ilfeel padaku karena menurutnya aku tuh agak nakal, beda sama mantannya yang lulusan pondok itu, yang katanya nggak pernah berani megang tangannya. Ooh pliss deh, nggak berani pegang tangan tuh nggak bisa jadi ukuran nakal tidaknya seseorang. Kamu tahu nggak, mantannya Kayla itu juga pas pacaran katanya nggak berani pegang tangan, alim lah kesannya. Tapi tahu-tahu ngaku pernah ML sama anak buahnya. Hari gini ini tuh ya penampilan sama lingkungan tuh nggak bisa dijadikan jaminan.”
“Kalau itu aku setuju sama kamu, don’t judge book by the cover, tsaaah standar banget yak. Uhm, emang habis kamu apain aja sih dia kok sampai ilfeel gitu. Perasaan ya selama tiga tahun kita sahabatan, kamu tuh menurutku malah tergolong cowok yang nggak neko-neko. Tapi nggak tahu juga ya kalau pas pacaran, kan katanya kalau cewek ama cowok hanya berduaan, maka yang ketiga itu adalah syetaaan.” Neza ketawa cekikikan lagi, tapi kali ini Tian tidak merasa tersinggung, malah ikutan ketawa juga.

“Aku tuh nggak macam-macam, hanya peluk cium aja. Standartnya orang pacaranlah.”
“Peluk cium itu udah macam-macam kaliii. Mungkin aja Alia sama mantannnya itu jenis anak pondokan yang emang bener-bener menjaga diri, istilahnya pacaran Islami gitu deh.”
“Whatever, mau pacaran Islami atau apa. Yang pasti aku merasa ini semua nggak adil buatku, masa hanya gara-gara itu aja semua perjuangan dan usahaku untuk membuktikan cinta dan sayangku langsung runtuh dan nggak ada artinya sama sekali. Aku merasa kayak dibuang gitu aja Nez. Padahal aku kan masih bisa memperbaikinya, toh aku juga bukan cowok bejat yang suka nidurin anak orang. Pembunuh yang pernah membunuh seribu orang aja masih diberi kesempatan bertaubat, kenapa aku nggak?”
Neza meraih tangan Tian, menggenggamnya erat. Dia bisa memahami ketidak adilan yang dirasakan Tian.
“Ya udah ikhlasin aja, nggak ada gunanya juga kan kamu protes gitu.”
“Iya, sebenarnya kan emang aku udah berniat mengalah. Aku sadar posisiku emang salah sejak awal. Tapi aku kecewa banget dengan cara dan alasan dia mutusin aku. Dan yang lebih bikin kecewa lagi, masa dia bilang udah merasa nggak nyaman setelah kencan kami yang kedua. Jadi sikap manis dan mesranya di kencan-kencan berikutnya itu apa? Hanya sandiwara aja gitu? Oh thanks a lot, ternyata ketulusanku selama ini dibalas dengan kepalsuan belaka.”
“Trus Alia bilang apa?”
“Aku nggak tahu, harus senang apa sedih dengan sifat Alia yang jujur banget itu, soalnya kejujuran yang dia ungkapkan lebih banyak nyakitinnya sih. Masa dia ngaku kalau selama kami pacaran itu dia emang pernah beberapa kali bersandiwara gitu di hadapanku. Apa yang dia ucapin nggak sama dengan apa yang ada di hatinya. Pantesan, beberapa kali emang aku merasa hambar gitu saat bersamanya, meski dia ngucapin sesuatu yang indah tapi kayak nggak ngefek gitu pada diriku. Emang bener ya, sesuatu yang datangnya dari hati pasti akan sampai ke hati juga. Sekarang ini kalau aku ingat-ingat saat bersamanya kemarin, melihat foto-foto mesra kami berdua, aku jadi mikir jangan-jangan semuanya itu palsu. Sedih rasanya Nez…”

“Aku memang belum pernah ngalamin kayak gitu tapi aku bisa memahami perasaanmu. Menyadari bahwa apa yang selama ini kita agung-agungkan ternyata semua itu hanya kepalsuan belaka pasti menyakitkan sekali. Tapi seperti yang kamu bilang tadi, coba kamu lihat sisi baiknya. Untung kamu mengetahuinya sekarang, coba bayangin kalau hubungan kalian sudah terlanjur jauh, pasti akan jauh lebih nyakitin. Itu tandanya dia memang bukan jodohmu.”

“Aku heran, kok bisa sih dia ngelakuin hal itu sama aku. Tega banget, padahal selama ini kalau aku habis marah sama dia pasti ujungnya aku jadi nyesel sendiri. Kamu jangan kayak gitu ya Nez sama cowok.”

“Iya Pak Dhe. Kalau aku sih nggak heran dia bisa setega itu sama kamu, wong dia sama cowoknya yang udah setahun pacaran aja tega nyakitin apalagi sama kamu yang notabene adalah orang baru dalam hidupnya.”

“Iya-ya, bener juga kamu. Nggak lagi-lagi deh aku jadi orang ketiga, makan hati mulu. Cinta segitiga, segi empat atau segi nggak beraturan itu emang menarik untuk diikuti jalan ceritanya tapi sama sekali tidak enak untuk dijalani.”

Tian beranjak dari kursi dan merebahkan tubuhnya di samping Neza. Dia mengusap-usap wajah kuyunya dengan kedua telapak tangannya. Sambil menatap kosong ke langit-langit kamarnya Tian berbicara lagi.

“Aku sama Alia memang sudah benar-benar putus sekarang tapi aku lega karena tadi semuanya udah clear. Kalau memang dia memilih balik sama mantannya, ya udah aku nggak akan mengemis-ngemis untuk menahannya. Bagiku, dia sudah menyia-nyiakan cinta dan ketulusanku selama ini. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk terus memelihara rasa cintaku padanya di dalam hati, aku berharap waktu bisa segera menghapus lukaku ini.”
“Gitu dong, itu baru sahabatku. Gagal dalam bercinta itu mah biasa, terluka itu mah udah resiko. Yang penting kita jangan sampai trauma untuk menemukan cinta sejati kita. Duh, aku kesambit apa ya kok jadi sok bijak gini.”
“Kesambit jin ifrit kali,” ledek Tian dengan cueknya.
“Ngomong-ngomong soal menyia-nyiakan cinta dan ketulusan, kok aku jadi teringat sama Sheila yaaa?” balas Neza seraya melirik nakal pada Tian. Sheila adalah mantan Tian yang keenam.
“Nezaaaa, nggak sekalian aja kamu sebutin semua mantan-mantanku beserta dosa-dosaku pada mereka. Emang apa hubungannya coba Sheila dengan kasusku kali ini?”
“Udah lupa yaa, kamu dulu juga melakukan hal yang sama pada Sheila kan?”
“Maksudmu aku menyia-nyiakan dia gitu?”
Neza mengangguk mantap.
“Nggak ah, justru karena aku nggak mau menyakitin dia lebih parah lagi makanya aku memilih untuk memutuskannya. Aku akui Sheila memang dewasa, sabar dan pengertian banget sama aku…”
“Nah itu dia, sama kan dengan kasusmu sekarang. Kamu udah sabar dan pengertian banget sama Alia tapi ternyata dia tetep meninggalkanmu,” lagi-lagi Neza memotong ucapan Tian.
“Tapi masalahnya aku udah nggak merasakan chemistry lagi sama Sheila. Kalau diterusin malah aku akan semakin menyakitinya.”
“Apapun alasanmu tapi intinya sama. Dan kesimpulanku tetap sama kayak kejadian telepon itu, kamu kena karma cinta dari mantan-mantanmu.”
“Karma cintaaa? Makanan apa lagi itu Nez, ngarang aja kamu.”
“Yaa terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi nggak ada salahnya juga mulai sekarang kamu minta maaf pada mantan-mantanmu yang pernah kamu sakitin. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan nanti.”
“Aaaah Neza, kamu jangan nakut-nakutin aku gitu dong.”
“Siapa juga yang nakut-nakutin, sebagai seorang sahabat aku hanya ngingetin aja.”
“Iya makasih Nez udah ngingetin aku. Makasih juga udah dengerin semua curhatku selama ini. Jangan kapok yaa..”
“Iyaah, jangan kuatir. Kita jalan-jalan yuk, pengap neh di kamar mulu,” ajak Neza sambil menarik Tian agar bangun. Tian menyambar jaket dan kunci motornya, setelah itu mereka keluar dari kamar kos.

Kalau memang semua ini merupakan karma dari mantan-mantannya, Tian berharap berhenti cukup sampai di sini aja. Sejujurnya, Tian sudah merasa lelah dengan kegagalan-kegagalan cintanya selama ini. Tian berharap bisa segera menemukan cinta sejatinya, yang entah di mana dia berada sekarang. Tian hanya bisa berharap Tuhan mendengar dan mengabulkan pinta hatinya tersebut.

Tian melihat ke arah Neza yang berjalan di depannya. Sebenarnya dia merasa sudah menemukan cinta sejati itu, tak ada wanita yang lebih mengerti dan memahami dirinya seperti Neza mengerti dan memahami dirinya selama ini. Tapi Tian memendam mati-matian rasa itu karena dia tak mau merusak persahabatannya dengan Neza. Neza dulu pernah bercerita pada Tian bahwa dia marah besar saat ada seorang salah satu sahabat cowoknya saat kuliah dulu yang mengutarakan perasaan padanya. Neza akhirnya memutuskan tali persahabatannya dengan cowok tersebut. Tian tidak mau hal itu terjadi pada dirinya. Aaah andaikan saja Neza mengetahui hal itu…

*maaf kalo kepanjangen*

Iklan

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

37 responses »

  1. darnia berkata:

    oh…kirain curhat tersamar 😀

  2. siantiek berkata:

    backsoundnya ni….. :D”…bilakah dia tahu apa yg tlah terjadisemenjak hari itu hati ini miliknyamungkinkah dia jatuh hati seperti apa yg kurasamungkinkah dia jatuh cinta seperti apa yg kudamba….bilakah dia mengerti apa yg tlah terjadihasratku tak tertahan tuk dapatkan dirinyamungkinkah dia jatuh hati seperti apa yg kurasamungkinkah dia jatuh cinta seperti apa yg kudamba….Tuhan yakinkan dia tuk jatuh cinta hanya untukku andai dia tahu

  3. trasyid berkata:

    rengket-rengket…agak janggal sama b.inggris yang ini “i am so sad for hear that”… 🙂

  4. onit berkata:

    nawhi said: karma itu kan hukum alam. Kalau kita pernah berbuat sesuatu yang buruk sama seseorang, pasti suatu saat kita akan mendapat balasannya melalui orang lain

    buat yg baik juga loh :)kesian si karma dianggap cuma menyalurkan perbuatan buruk ajah =))

  5. nawhi berkata:

    darnia said: oh…kirain curhat tersamar 😀

    ini cerpen, piksi Dan he3

  6. grasakgrusuk berkata:

    karma do exist yah.. :))

  7. nawhi berkata:

    siantiek said: backsoundnya ni….. :D”…bilakah dia tahu apa yg tlah terjadisemenjak hari itu hati ini miliknyamungkinkah dia jatuh hati seperti apa yg kurasamungkinkah dia jatuh cinta seperti apa yg kudamba….bilakah dia mengerti apa yg tlah terjadihasratku tak tertahan tuk dapatkan dirinyamungkinkah dia jatuh hati seperti apa yg kurasamungkinkah dia jatuh cinta seperti apa yg kudamba….Tuhan yakinkan dia tuk jatuh cinta hanya untukku andai dia tahu

    untuk yang endingnya yaaa.kalo untuk yang cinta segitiga apa?

  8. jampang berkata:

    kemaren ada penceramah yg ngomong… gak ada koruptor yang islami, gak ada zina yang islami…. dan pacaran juga 🙂

  9. nawhi berkata:

    jampang said: panjaaaaaang

    cuma 4 halaman A4 kok.

  10. nawhi berkata:

    trasyid said: rengket-rengket…agak janggal sama b.inggris yang ini “i am so sad for hear that”… 🙂

    apa karena hurufnya kekecilan? ntar digedein tambah panjaaang.ow kasih koreksi deh gimana enaknya?

  11. trasyid berkata:

    nawhi said: apa karena hurufnya kekecilan? ntar digedein tambah panjaaang.ow kasih koreksi deh gimana enaknya?

    bahasa inggris saya pas-pasan cuma dipake buat gartiin jurnal aje.. cuma ngerasa agak ngeganjal.. apa ya?

  12. onit berkata:

    “i am so sad to hear that” kalo kata mereka mah..

  13. nawhi berkata:

    onit said: buat yg baik juga loh :)kesian si karma dianggap cuma menyalurkan perbuatan buruk ajah =))

    iya seh, selama ini kalo ngomongin karma pasti persepsinya ke perbuatan yang buruk :D*elus-elus si karma biar ga mewek*

  14. nawhi berkata:

    grasakgrusuk said: karma do exist yah.. :))

    yuuuupee, bener sekali Wet.

  15. nawhi berkata:

    jampang said: kemaren ada penceramah yg ngomong… gak ada koruptor yang islami, gak ada zina yang islami…. dan pacaran juga 🙂

    Makasih Mas infonya, saya hanya menangkap dan menuliskan apa yang ada di masyarakat.

  16. trasyid berkata:

    onit said: i am so sad to hear that

    bener harusnya to, bukan for.. 🙂

  17. nawhi berkata:

    onit said: “i am so sad to hear that” kalo kata mereka mah..

    ah iyaa, kurang pasnya di kata for. Makasih Nit koreksinya.

  18. mahasiswidudul berkata:

    CURCOOOOLLL *ooppss..maaf capslock* :))

  19. nawhi berkata:

    mahasiswidudul said: CURCOOOOLLL *ooppss..maaf capslock* :))

    aah masa seeeh? hanya perasaan Nina aja itu :))

  20. trewelu berkata:

    makanya, kenalan itu sama ortunya langsung… heuheu… udah, nezanya dilamar aja…

  21. nawhi berkata:

    trewelu said: makanya, kenalan itu sama ortunya langsung… heuheu… udah, nezanya dilamar aja…

    mewakilin Tian: biar ortunya setuju tapi kalo anaknya ga mau ya tetep aja kan Mbak. melamar Neza? Hmm ntar diputus sahabatannya Mbak.

  22. museliem berkata:

    Ini fiksi apa nyata yah kakak?

  23. nawhi berkata:

    museliem said: Ini fiksi apa nyata yah kakak?

    piksi Dek :))

  24. intan0812 berkata:

    Kirain ihwan curcol… Taunya fiksi ya 😀

  25. nawhi berkata:

    intan0812 said: Kirain ihwan curcol… Taunya fiksi ya 😀

    iyaa, piksi kok :))

  26. siantiek berkata:

    nawhi said: kalo untuk yang cinta segitiga apa?

    hmmm….apa ya ? lagu cokelat yg ini cocok ga ?”ku bertahan walau……di antara segitiga ini..” eh apa ya, ga apal euy 😀

  27. closetonothing berkata:

    panjang!! -gak tau diri- 😀

  28. nawhi berkata:

    emaang, baru nyadar ya ahahaha

  29. nawhi berkata:

    emaang, baru nyadar ya ahahaha

  30. closetonothing berkata:

    iya euy…gua teh kadang2 tidak sadar..hahaha

  31. ibuseno berkata:

    Kirian Alia yg mantannya Ihwan anak pesantren itu 🙂

  32. tintin1868 berkata:

    cerpen apa curcol sih? cerpen dari curcol sendiri ya..

  33. debapirez berkata:

    ini nyeritain tentang gw neh?haha…

  34. nawhi berkata:

    ibuseno said: Kirian Alia yg mantannya Ihwan anak pesantren itu 🙂

    wekekekeke.

  35. nawhi berkata:

    tintin1868 said: cerpen apa curcol sih? cerpen dari curcol sendiri ya..

    silahkan tebak sendiri he3

  36. nawhi berkata:

    debapirez said: ini nyeritain tentang gw neh?haha…

    ahahaha ada kesamaan cerita ya Om?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s