Dulu saat saya masih kecil, keluarga besar selalu rutin mengajak saya berlebaran ke Bululawang, kota asal leluhur yang berada di selatan kota Malang. Di antara semua kerabat yang tinggal di sana, ada satu kerabat yan tidak pernah absent kami datangi. Kerabat saya ini, sebut saja namanya Pak Herman, tinggal di daerah Sempalwadak.

Pak Herman ini termasuk orang yang cukup terpandang di Sempalwadak, seingat saya beliau seorang tentara. Rumahnya cukup besar dengan kebun di belakang yang ditanami berbagai macam buah-buahan, seperti kelapa, mangga, salah dan lain lain. Makanya saya paling senang ke rumah Pak Herman ini karena bisa memetik buah langsung dari pohonnya.

Hubungan keluarga saya dengan Pak Herman sepertinya sangat akrab karena setiap kali ke sana, kami bebas masuk-masuk mulai dari ruang tamu hingga ke dapur. Termasuk ke kamar anak-anaknya yang besar banget untuk ukuran saya saat itu. Saat itu saya tidak tahu hubungan kerabat Ibu dengan Pak Herman itu apa, entah sepupu atau apa, yang saya ingat mereka memanggil Pak Herman dengan sebutan Mas.

Barulah ketika menginjak dewasa saya mengetahui hubungan kerabat kami yang sebenarnya. Ternyata antara keluarga saya dengan Pak Herman itu tidak ada hubungan darah sama sekali. Pak Herman adalah orang yang dulu membeli rumah milik almarhum kakek saya, Pak Ramsoen. Menurut cerita bibi saya, dulu kakek pernah menderita sakit keras hingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Akhirnya untuk menutupi biaya tersebut, kakek dan nenek menjual rumah yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun itu kepada Pak Herman. Kemudian kakek dan nenek saya pindah dan menetap di Malang.

Setelah bertahun-tahu cerita itu saya dengar dari bibi, saya jadi membayangkan bagaimana perasaan Ibu, paman dan bibi saya saat bertandang ke rumah itu setiap lebaran. Kalau saya berada di posisi mereka, pastinya campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena bisa bernostalgia, mengingat-ingat kembali kenangan masa kecil saat tinggal di rumah tersebut. Sedih karena rumah tempat saya lahir dan tumbuh itu kini menjadi milik orang lain. Membayangkan kamar kita, ruang paling pribadi kita kini ditempati oleh orang asing, rasanya pasti sedih banget.

Kini boleh dibilang keluarga saya sudah loose kontak dengan keluarga Pak Herman. Saya tidak tahu kenapa, tahu-tahu keluarga saya sudah tidak pernah lagi mengajak berlebaran ke sana. Kabar terakhir yang saya dengar, Pak Herman sakit keras atau wafat, saya kurang tahu pasti. Semoga Pak Herman sekeluarga baik-baik dan sehat di sana, aamiin.


Iklan

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

23 responses »

  1. jampang berkata:

    rumah ortu sebelum yang sekarang juga dijual, dan masih ada sampe sekarang. paling cuma bisa ngeliat dari luar aja, belum pernah masuk lagi.

  2. nawhi berkata:

    jampang said: rumah ortu sebelum yang sekarang juga dijual, dan masih ada sampe sekarang. paling cuma bisa ngeliat dari luar aja, belum pernah masuk lagi.

    kalo boleh tahu kenapa kok dijual Mas?sebisa mungkin sih, rumah keluarga besar itu ga dijual soalnya menyimpan banyak kenangan.

  3. bundanyaraihan berkata:

    itu sebabnya rumahku yang di Kuningan gak jadi dijual. Gak rela rasanya rumah yang penuh kenangan itu ditempati orang lain. Padahal udah banyak yang berminat untuk membeli. Tapi sampe sekarang masih keukeuh gak mau kita jual. Lagian, kalo Lebaran kayak gini, paling enak ya pulang ke kampung dan rumah orang tua…:)

  4. nawhi berkata:

    bundanyaraihan said: kalo Lebaran kayak gini, paling enak ya pulang ke kampung dan rumah orang tua…:)

    betul sekali Mbak, mulai dari anak cucuk berkumpul pasti ramai sekali dan itu membuat orangtua bahagia di masa tuanya.

  5. jampang berkata:

    soalnya tanahnya adalah tanah warisan 🙂

  6. bundel berkata:

    nawhi said: Rumahnya cukup besar dengan kebun di belakang yang ditanami berbagai macam buah-buahan, seperti kelapa, mangga, salah dan lain lain.

    Nak Ihwan iki awit wingi salah ae sih, tak takoni jajal, woh salah iku sing koyok ngopo sih?Qeqqeqeqeqeqe……….

  7. bundel berkata:

    Nak takon yok? Lawang iku mBululawang opo duduk sih? Aku yo nduwe budhe ndek Lawang, tapi aku rung tau sowan mrono.

  8. ibuseno berkata:

    Rumah kenangan saat ditinggalkan dan kemudian kita bertandang lagi emang bikin melow wan, jangankan berkunjung , lihat lwt foto atau lewat aja juga bikin melow.. Smoga Pak Herman baik2 aja yaa

  9. nawhi berkata:

    bundel said: woh salah iku sing koyok ngopo sih?

    *tepok jidat*perasaan tadi mencet K kok Bun 😛

  10. museliem berkata:

    Harusnya dikasih judul Pak Herman tuh 🙂

  11. nawhi berkata:

    bundel said: Lawang iku mBululawang opo duduk sih? Aku yo nduwe budhe ndek Lawang, tapi aku rung tau sowan mrono.

    bukan BUn. Lawang itu di utaranya Malang, pintu gerbang mau ke Malang lah.wah kalo ke situ kabar2i ya Bun, siapa tahu bisa kopdar.

  12. nawhi berkata:

    ibuseno said: Rumah kenangan saat ditinggalkan dan kemudian kita bertandang lagi emang bikin melow wan, jangankan berkunjung , lihat lwt foto atau lewat aja juga bikin melow.. Smoga Pak Herman baik2 aja yaa

    untungnya saya dulu pas masih kecil (dan imud) nggak tahu apa-apa jadi seneng2 aja pas main ke sana.aamiin.

  13. nawhi berkata:

    museliem said: Harusnya dikasih judul Pak Herman tuh 🙂

    ow gitu ya Mus.ini tadi juga kepikiran aku ganti judulnya.

  14. bundel berkata:

    nawhi said: bukan BUn. Lawang itu di utaranya Malang, pintu gerbang mau ke Malang lah.wah kalo ke situ kabar2i ya Bun, siapa tahu bisa kopdar.

    Kayaknya keluarga pakdhe saya itu udah bubar, karena pakdhe budhe saya sudah lama wafat.

  15. estiningtyas berkata:

    mas, knp lose kontak dgn pak herman?

  16. kakrahmah berkata:

    Coba cari info aja, siapa tahu bisa ketemu lagi jejak keluarganya

  17. boemisayekti berkata:

    Sangat sedih pasti saat bertandang, merasa eman2 melihat rumah nyaman itu ditempati orang lain. . .

  18. ivoniezahra berkata:

    Sama. Rumah nenek jg udh di jual. Pdhl di sn aku dibesarkn, meski bkn rmh tmptku di lhrkn.bnyk bnget kenangan lebrn dn acra kel besar di sana.btw, rmhnya g jauh dr rmhku itu lho mas 🙂

  19. trewelu berkata:

    ketika rumah yang pernah kami tempati dulu ditempati orang lain, rasanya… rumah itu sudah bukan rumah kami lagi… perasaan seperti itu bahkan muncul ketika rumah itu belum ditempati orang lain tapi barang2 kami sudah tidak ada di sana lagi..

  20. asasayang berkata:

    besok didatangi dong mas

  21. thebimz berkata:

    salam buat pak herman kalo kesana…

  22. 25102004 berkata:

    untung ya masih kenal sama pemilik barunya…jadi masih bisa bernostalgia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s