Sore itu saya pulang agak telat dikarenakan keasyikan berselancar di dumay, sekitar jam lima sore saya baru keluar dari kantor. Tidak ada yang spesial dalam perjalanan pulang saya, melewati jalan yang sama seperti biasanya. So standart lah.

Sampai kemudian ketika hampir sampai di perempatan Dieng Plaza, saya melihat sebuah logo yang menarik hati saya. Logo yang belakangan ini begitu famous di kalangan anak muda yang gemar kuliner. Antara ragu dan penasaran saya mencoba melambatkan laju motor saya. Karena arus lalu lintas yang agak kencang di situ saya hanya bisa melihat sepintas. Hati saya makin ragu, apa benar itu barang yang belakangan ini bikin saya penasaran. Dasarnya saya memang peragu saya pun tetap berlalu hingga melewati perempatan Dieng. Namun dorongan di dalam hati semakin kuat mengatakan bahwa logo itu lah yang memang saya cari selama ini.

Akhirnya dengan kemantapan hati saya putar balik motor saya, untunglah lampu lalu lintasnya sedang menyala warna hijau sehingga saya tak perlu berlama-lama untuk sampai di tempat logo itu berada. Segera saya turun dari motor dan menghampiri mobil yang di kaca dan body-nya terpasang logo tersebut. Ternyata memang benar, mobil tersebut milik seorang jendral Ma Icih, sebutan bagi para penjual keripik pedas asal Bandung yang sedang ngehit to the max tersebut. Saya segera ikut ngantri untuk membeli keripik yang katanya bisa bikin ketagihan itu.

Adalah Axl, anak muda Bandung, yang mendapat ide untuk memasarkan keripik pedas racikan seorang wanita paruh baya yang biasa dipanggil Mak Elang yang dia temui di medio 2008 yang lalu. Dengan modal uang tentunya, pengalaman berbagai macam bisnis dan telah mengecap pahit manis dunia usaha Axl mulai menawarkan keripik yang diberi merk Ma Icih. Meski pada awalnya banyak yang meremehkan namun berkat pemasaran yang bagus yaitu lewat Twitter, Ma Icih akhirnya berhasil menjadi primadona baru di dunia kuliner anak muda. Sampai konon katanya ada ungkapan jangan ngaku gaul kalau belum pernah makan keripik Ma Icih.

Sekarang mari kita bahas tentang rasa dari keripik Ma Icih ini. Saya sendiri membeli level lima karena saya pernah punya riwayat asam lambung dan maag jadi tidak berani untuk mecoba yang level sepuluh. Ketika keripik itu masuk ke mulut dan mulai saya kunyah-kunyah, memori saya langsung terlempar ke masa kecil dimana saya gemar sekali makan mie instan dengan cara memakannya tanpa direbus. Yeah, saya tahu itu tidak baik tapi gimana lagi, lha wong rasanya enak.

Oke kembali ke Ma Icih, menurut saya bumbu yang dipakai keripik ini tidak mempunyai ciri khas yang membedakannya dengan produk sejenis. Seperti yang saya bilang di atas, rasanya seperti bumbu mie instant. Bahkan keponakan saya, Bella, dengan polosnya bilang bahwa rasanya seperti bumbu mie betheng (lidi) yang biasa dia beli di sekolah. Spontan saya tertawa, andai dia tahu bahwa keripik Ma Icih ini begitu populer saat ini. Untuk teksturnya sendiri juga agak keras. Sungguh saya tidak bermaksud menurunkan pasaran keripik pedas ini namun saya hanya ingin menuliskan penilaian yang objektif. Atau mungkin ini karena ekspektasi saya yang terlalu besar pada Ma Icih.

Namun terlepas dari rasanya, saya salut dan angkat topi buat Axl atas idenya dalam hal pemasaran melalui Twitter sehingga Ma Icih bisa se-famous sekarang ini. Semoga ke depannya ada perbaikan rasa sehingga Ma Icih tidak hanya sekedar mengandalkan rasa pedas saja dalam memikat para penggemar keripik seperti saya.

referensi:

http://www.bandungreview.com/id/articles/index/detail/node/ma-icih-snack-paling-hot-dari-bandung-373

Iklan

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s