Di sebuah pasar malam

Malam ini Fairus begitu gembira karena keinginannya untuk pergi ke pasar malam akhirnya dikabulkan kedua orangtuanya. Sudah tiga hari ini gadis berambut keriting itu hanya bisa memendam rasa iri ketika mendengar cerita teman-teman sekelasnya betapa menakjubkan dan meriahnya pasar malam yang diadakan di lapangan Rampal tersebut. Kesibukan kedua orangtuanya membuat mereka baru bisa pergi ke pasar malam di hari terakhir.

Suasana pasar malam sangat ramai, lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Sepertinya hampir semua penduduk kota dingin itu tumpah ruah di pasar malam, memenuhi setiap stand dan wahana permainan yang ada. Dari semua wahana permainan yang disediakan, wahana Bianglala dan Rumah Salju menjadi favorit anak-anak hingga menyebabkan antrian yang mengular. Sedangkan pengunjung remaja dan dewasa mengular di wahana Naga Terbang yang memacu adrenalin.

Di antara semua pengunjung, penampilan Fairus nampak cukup menonjol dengan dandanannya yang mirip penyanyi cilik dari Rumania, Cleopatra Stratan. Rambut dikepang dua dan gaun polkadot warna merah jambu. Orangtua Fairus, terutama ayahnya memang sejak dulu mengidolakan penyanyi yang melejit dengan lagu Ghita tersebut. Tak heran jika sekarang putri kesayangannya itu didandani mirip dengan Cleopatra dan untungnya Fairus juga suka dan nyaman dengan dandanan tersebut.


“Ayah, aku mau gula-gula itu!” pinta Fairus sambil menunjuk penjual gula-gula yang sedang sibuk melayani pembeli yang sebagian besar anak-anak.
“Tidak boleh Fay, nanti giginya bisa berlubang kalau sering makan gula-gula,” potong Aida, ibu Fairus.
“Aku kan udah lama nggak makan gula-gula.”
“Lha kemarin, makan permen di rumah Nenek, itu sama saja Fay.”
Fairus langsung menekuk muka sambil memandangi ayahnya, seakan meminta pembelaan.
“Iya benar kata Ibu, jajan yang lain saja.” Ternyata ayahnya kali ini setuju dengan pendapat sang ibu, membuat Fairus hanya bisa pasrah.

***


Sementara itu di sudut lain pasar malam, seorang anak lelaki berdiri sendirian di depan stand minuman. Sedari tadi dia mengamati setiap pengunjung pasar malam yang lewat di depannya. Udara dingin Malang seakan tak membuatnya menggigil meski dia hanya mengenakan kaus oblong dan celana selutut. Beberapa orang yang menyangkanya pengemis, melemparkan uang koin ke arahnya.

Sekonyong-konyong seekor cerpelai menghampiri dan naik menuju pundaknya. Binatang mungil itu tampak lucu sekali, dengan dua warna bulu yang menyelimuti tubuhnya. Bagian dada, tangan dan kakinya berwarna putih, sedangkan punggung dan ekornya berwarna coklat muda. Sedangkan warna kepalanya sendiri gabungan dari dua warna tersebut. Tekstur bulunya begitu lembut seperti kapas, membuat siapa saja yang melihatnya ingin membelai-belai gemas.

“Kenapa lama sekali Ras? Kamu tahu tidak, dari tadi aku menunggumu di sini hingga dikira pengemis oleh para pengunjung pasar malam!” tanya bocah itu pada binatang yang merupakan musuh bebuyutan ular kobra tersebut.
“Maafkan Tuan, saya tadi dikejar-kejar kucing sialan yang mengira saya seekor tikus..” jawab si cerpelai dengan suara gemetar.
“Dasar bodoh, kenapa tidak kau bantai saja kucing itu?”
“Saya tidak mungkin melakukannya, tadi banyak orang yang melihat…”
“Ya sudah, lalu bagaimana hasil pengintaianmu, apa acara ruwatannya sudah dimulai?”
“Belum Tuan, dalang titisan Dewa Wisnu itu belum datang.”
“Baguslah kalau begitu, ayo kita segera beraksi. Tubuhku sudah semakin lemah, aku tidak sabar ingin segera memangsa jiwa anak-anak Sukerta di sini!!”

***


Fairus sedang duduk sendirian di sebuah stand bakso bakar, Ibunya sedang pergi ke toilet sedangkan ayahnya mengambil uang di ATM. Meskipun begitu dia tidak merasa takut atau canggung karena di tangannya ada handphone yang menjadi mainannya sedari tadi. Keasyikannya bermain handphone sedikit terusik ketika secara tak sengaja matanya menangkap seekor binatang mungil yang sedang asyik memakan sisa-sisa makanan di bawah meja.


Baru kali ini Fairus melihat binatang yang sekilas mirip tikus itu dan membuatnya bertanya-tanya apa nama binatang tersebut. Fairus makin tertarik ketika binatang berbulu putih dan cokelat itu melihat ke arahnya dan terdiam beberapa saat. Buru-buru Fairus menyalakan kamera di handphonenya namun belum sempat membidik, binatang itu sudah lari keluar dari stand. Tak mau kehilangan mainan barunya, Fairus pun segera menyusul keluar juga.

Setengah berlari Fairus mengejar cerpelai yang larinya ternyata lumayan gesit itu, beberapa kali dia menabrak pengunjung pasar malam. Tapi untung Fairus tidak sampai kehilangan jejak, dia terus mengikuti kemana cerpelai itu pergi hingga tiba di sebuah sudut lapangan yang kosong. Cerpelai itu terpojok di antara dua tenda stand. Fairus senang sekali sementara cerpelai itu nampak panik karena tidak bisa lagi melarikan diri. Dengan penuh kehati-hatian Fairus mendekati cerpelai tersebut.

“Sini Sayang, jangan takut aku tidak akan menyakitimu.”
Cerpelai itu mundur ke belakang, semakin terpojok.

“Heii, kenapa kamu mengejar-ngejar Raras?” seru sebuah suara yang mengagetkan Fairus.
Fairus menoleh ke belakang dan melihat seorang anak laki-laki yang lebih tua darinya.
“Raras…? Siapa itu Raras?”
“Cerpelai itu namanya Raras, dia binatang peliharaanku. Apa dia tadi menganggumu?”
“Oh enggak kok, aku tadi melihatnya di stand bakso bakar lagi makan sisa-sisa makanan, trus pas aku liat eh dia malah lari. Aku lalu mengejarnya karena baru kali ini aku melihat binatang selucu dia. Kukira dia tikus atau sejenis hamster, ternyata bukan ya?” Fairus terkekeh, menertawakan keterbatasan pengetahuannya tentang jenis-jenis hewan.
“Raras sini, jangan takut…” panggil bocah itu. Cerpelai itu segera berlari ke arahnya dan langsung naik ke pundak.
“Ini namanya cerpelai, ada juga yang menyebutnya musang ekor pendek. Emang beneran kamu belum pernah lihat sebelumnya?”
“Oh sejenis musang, belum sama sekali, boleh aku membelainya? Dia nampak menggemaskan sekali.”
“Boleh, mendekatlah!”
Fairus mendekat, dengan hati-hati dia membelai-belai bulu Raras yang selembut kapas itu.
“Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu…”
“Kamu menyukainya?”
Fairus mengangguk senang.
“Kamu gendong aja,” ucap bocah itu seraya menurunkan Raras dari pundak dan memberikannya kepada Fairus.
Antara takjub dan sedikit grogi, Fairus menggendong cerpelai itu di kedua tangannya. Dengan penuh kasih sayang dia membelainya. Raras yang semula takut pada Fairus kini malah nampak keasyikan berada di gendongan Fairus.
“Tampaknya dia juga menyukaimu.”
“Sepertinya sih gitu,” balas Fairus sambil tertawa senang. “Oh iya, namamu siapa? Aku Fairus.”
“Aku Prama.”

***


Suasana pasar malam yang ceria dan menyenangkan mendadak berubah mencekam ketika penjual gula-gula menemukan mayat seorang anak kecil di sudut lapangan, saat dia hendak buang ai
r kecil. Jasad anak itu begitu mengenaskan, tubuhnya kurus hingga seperti tinggal tulang dibalut kulit saja. Yang paling mengerikan adalah raut wajahnya agak menghitam dengan mata melotot dan mulut menganga lebar seakan menunjukkan rasa sakit dan ketakutan yang amat sangat ketika bocah itu meregang nyawa.

Aparat kepolisian segera dipanggil untuk menangani kejadian yang sangat menggemparkan itu. Banyak sekali orang yang berebut ingin melihat jasad anak kecil tersebut, sebagian besar penasaran, sebagian lainnya khawatir jika anak kecil itu adalah salah satu anggota keluarganya, termasuk diantaranya Aida dan Firman.

“Ayo Yah, kita liat anak itu, aku khawatir jangan-jangan dia…” Aida tak mampu meneruskan kata-katanya, hanya air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.
“Ibu jangan keburu berpikir yang tidak-tidak…Ayah yakin Fairus baik-baik saja..” ucap Firman berusaha menenangkan istrinya.
“Tapi Yah, dari tadi kita tidak kunjung menemukannya…” protes Aida sambil berusaha menerobos kerumunan orang di depannya. Firman mengikutinya, di palung hati pria itu sebenarnya juga ada kekhawatiran yang sama namun dia berusaha menepisnya karena dia tidak mau ikutan panik seperti istrinya.
Aida dan Firman akhirnya berhasil menerobos kerumunan tersebut. Dengan tangan gemetar Aida menyingkap kertas koran penutup jasad anak malang tersebut. Pelan-pelan kertas koran itu tersingkap, Aida dan Firman terus berdoa dan berharap semoga itu bukan jasad putri kesayangan mereka.

Hati kedua suami istri yang telah menikah selama sewindu itu sangat lega dan bersyukur sekali mengetahui bahwa jasad anak itu adalah seorang anak laki-laki. Firman lalu menggandeng tangan istrinya berlalu dari situ.
“Lalu sekarang kita cari di mana lagi Yah?” Aida menyeka air matanya.
“Bagaimana kalau kita coba balik lagi ke bagian informasi, siapa tahu Fairus sudah ditemukan.”
“Semoga ya Yah..”

Aida dan Firman pun lalu segera bergegas menuju bagian informasi namun baru beberapa langkah mendadak ada yang memanggil mereka. Demi mendengar suara yang sudah familiar itu, mereka berdua menoleh dengan penuh rasa keterkejutan bercampur senang.
“Fairuus…!!” seru mereka bersamaan.
Aida langsung berlari menghambur ke arah Fairus dan memeluknya erat sekali.
“Kamu kemana aja Fay, kami mencari-cari kamu dari tadi?” tanya Aida sambil memeriksa seluruh tubuh Fairus, memastikan bahwa putrinya selamat tidak kurang suatu apapun.
“Aku nggak kemana-mana kok, tadi aku cuma main-main sebentar, habis Ibu dan Ayah lama sekali perginya.”
“Ayah kan sudah berpesan kalau kamu nggak boleh kemana-mana, tunggu di stand bakso bakar sampai kami kembali. Kami tadi sangat kuatir sekali Fay mencari kamu kemana-mana tapi tidak kunjung ketemu. ”
“Maafin aku Yah, Bu…” ucap Fairus tertunduk.
“Ya sudah, yang penting sekarang Fairus sudah kita temukan Yah. Lain kali jangan diulangi ya Fay. Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana. Kami akan sangat sedih sekali Fay.”
“Jangan kuatir Bu, tadi aku baik-baik saja kok, malah aku punya teman baru sekarang.”
“Oh ya, siapa nama temanmu?” tanya Aida dengan antusias sekali.
“Iniiih…” jawab Fairus seraya mengambil ‘sesuatu’ dari balik gaun polkadotnya.
Aida langsung berjingkat menjauh begitu melihat seekor binatang berbulu lebat di depan matanya.
“Itu apaa Fairus?”
Fairus malah tertawa cekikikan melihat ibunya sampai kaget ketakutan demi melihat teman barunya tersebut, tak terkecuali Firman.
“Ini kalau nggak salah namanya cerpelai. Fairus dapat dari mana?”
“Tadi aku lihat dia lagi makan sisa makanan, trus aku kejar dan tangkap deh. Lucu kan Yah, aku boleh pelihara dia yaa?” rajuk Fairus dengan manjanya.
“Tidak boleeh, Ibu kan sudah pernah bilang kalau di rumah kita tidak boleh ada binatang. Ibu tidak mau nanti ada yang kencing dan buang kotoran sembarangan, belum lagi nanti bulunya rontok di sofa dan tempat tidur. Binatang itu pasti juga kutuan. Ibu tidak mau Fay…!!
Fairus dan Firman hanya bisa bengong melihat reaksi Aida yang begitu hebohnya.
“Sudah Bu ngerapnya?” ledek Firman pada istrinya, membuat Fairus tertawa lagi.
“Ayaah! Kok malah gitu sih. Ayah udah lupa sama aturan kita dulu?”
“Itu kan aturannya Ibu, kalau Ayah sih fine-fine aja ada binatang di rumah. Malah rencananya Ayah mau melihara kucing angora. Tapi karena sekarang Fairus sudah menemukan cerpelai, ya sudah kita pelihara aja.”
“Horeee..!!” teriak Fairus dengan senangnya, sementara Aida hanya bisa berdiri manyun.
“Dinamain apa cerpelainya Fay?”
“Raras!”

***


Di sebuah ruang otopsi

“Buseet, neh anak sangar juga, di tangannya ada tato nih!”
“Ini sudah yang ketiga kalinya kita mengotopsi jenazah anak-anak dengan tato di tangan kirinya, letaknya sama, di lengan bagian dalam. Dan bentuknya juga sama persis, berupa lingkaran yang terbentuk dari huruf-huruf aksara Jawa yang ditulis secara terbalik, namanya Rajah Kalacakra.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Makanya internet jangan buat fesbukan aja coy!”



*****


Cerpen buat lombanya Rana di sini, masih belum fix, masih akan saya endapkan.
Selamat membaca



Iklan

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

28 responses »

  1. wib711 berkata:

    ihwan tanpa H adalah Iwan

  2. wib711 berkata:

    bisa juga H. Iwan

  3. nawhi berkata:

    walah udah pada diprotes he3, maaf tadi kepencet 😛

  4. wib711 berkata:

    bukannya anak sukerta itu harus diruwat? bukan dimusnahkan

  5. ivoniezahra berkata:

    * Horeeeeeeee…berhasil Nduut * ^^*ngintip dulu*

  6. siantiek berkata:

    ck..ck..ck..memang deh penulis hebat bisa nulis cerita sepanjang ini

  7. darnia berkata:

    jangan lupa tags-nya yang pake kata kunci ya nanti 🙂

  8. elywidya berkata:

    Hehhh..itu gambar tatonya bikin mata mumet aja 😀

  9. itsmearni berkata:

    panjangnya….ntar ah baca lagi

  10. jampang berkata:

    simpan dulu deh… panjang

  11. jampang berkata:

    belum selesai yah?

  12. tintin1868 berkata:

    gantung deh ceritanya..inget fairus kog pengen nyanyi lagi gita.. 😀

  13. bundel berkata:

    Oh… H=halah durung rampung wis kebacut diposting hahahahahahahaaaaaHA!

  14. estiningtyas berkata:

    isih bersambung to iki ? ayo gek ndang dirampungke

  15. nawhi berkata:

    darnia said: jangan lupa tags-nya yang pake kata kunci ya nanti 🙂

    maksudnya gimana Dan? kudu ditebelin gitu ya kata kuncinya atau dipake di tag-nya blog?

  16. m4s0k3 berkata:

    dibookmark dulu ah. ai mau cabuts 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s