Pagi ini ada rasa malas-malasan ketika hendak berangkat kerja, rasanya masih pengin liburan lagi. Biasaa, efek liburan panjang yang menghinggapi siapa saja, mulai dari anak sekolah hingga pekerja.

Sejak Sabtu malam hingga Selasa siang kemarin saya berada di Dusun Popoh, kampung halaman istri. Ini adalah pulkam terlama kami sejak menikah, biasanya kami datang Sabtu dan pulang Minggu sore atau Senin pagi. Kebetulan jadwal pulkamnya kemarin berdekatan dengan cuti bersama Idul Adha sehingga kami bisa lebih lama di Popoh.

Simple Life, begitulah saya menyebut aktivitas saya jika sedang pulkam di Popoh. Dimulai dengan aktifitas kami di pagi hari, bangun tidur-seringnya kami bangun kesiangan sih he3, trus bagi tugas dengan istri, dia yang masak saya yang nyuci pakaian kotor tinggalan bulan lalu. Atau kadang sebaliknya, tapi biasanya saya hanya masak nasi dan mie instan he3. Kalau sekarang karena udah ada Enju, jadi bertambah tugasnya yaitu bergantian ngajak Enju main. Setelah itu nyantai di rumah, main ke rumah kerabat-kerabat istri trus sorenya ke makam almarhum mertua yang tak jauh dari rumah.

Yang namanya tinggal di desa tentu suasana dan fasilitasnya jauh berbeda dengan di kota. Kalau di Malang rumah kami cukup dekat dengan berbagai fasilitas publik seperti pasar, mall atau tempat-tempat makan yang asyik. Sedangkan di Popoh, rumah kami jauh dari pusat keramaian. Satu-satunya ‘tempat hiburan’ bagi kami adalah Pasar Wlingi. Untuk menuju ke sana harus melewati jalan provinsi yang kanan-kirinya terbentang sawah yang luas, trus juga harus extra hati-hati karena harus bersaing dengan bus dan truk yang seringkali tak berempati pada pengendara motor.

Menjelang maghrib suasana di Popoh makin lengang, ditambah lagi rumah istri yang letaknya agak masuk trus rumah tetangga kanan kirinya jaraknya berjauhan jadi terasa banget sepinya. Di depan kami ada sih rumah tetangga namun tidak menghadap rumah kami sehingga yang terlihat hanya halaman samping rumahnya yang dipenuhi pepohonan rindang. Ditambah lagi tak ada penerangan di jalan, maka kalau tak ada keperluan yang benar-benar mendesak kami biasanya memilih menghabiskan waktu di rumah saja. Untung aja masih ada hape, internet dan televisi sehingga kami tetap bisa up to date dengan dunia di luar sana, nggak berasa ndeso banget lah.

Sebagian besar penduduk di Popoh bermata pencaharian sebagai petani, di pagi hari saya biasanya melihat tetangga sebelah rumah berangkat ke sawah dengan menggiring dua ekor kerbaunya dan baru pulang sore hari. Kadang saya berpikir, kalau saya tinggal di sini mau kerja apaan yak. Bertani nggak bisa, selain nggak punya ilmunya juga badan cungkring gini, bisa rontok semua kalau nyangkul sawah tiap hari. Atau malah bisa jadi keker kayak Ade Rai? Hi3

Tapi kalau seumpama disuruh berandai-andai saya pengin tetep menulis saja, suasana Popoh yang tenang dan jauh dari keramaian cocok sekali buat menulis. Membayangkan menulis cerita trus dikirim ke penerbit atau media massa. Trus kalau diterbitkan atau dimuat dapat kiriman royalty, tiap bulan ke Wlingi untuk ambil di ATM dan belanja seperlunya di Pasar Wlingi. Aaah, sungguh indah sekali khayalan manusia.

Ketika harus kembali ke Malang, kehidupan saya kembali seperti semula. Bangun pagi, bantu istri siapin segalanya, berangkat kerja, menghadapi pengunjung perpus dengan berbagai sifat dan karakternya, nyambi ngurusin penerbitan dan menjalani hiruk pikuk kota, tsaaah bahasanya udah kayak hidup di kota metropolitan aja. Saya bersyukur diberi kesempatan untuk merasakan hidup di dua lingkungan yang kondisinya jauh berbeda. Kehidupan di Popoh saya anggap sebagai katarsis kehidupan saya di Malang, ketika saya merasa stress atau udah judeg dengan segala problema kehidupan di Malang saya bisa menenangkan diri di Popoh.

Actually there is no simple life in human living, bahkan di Desa Popoh sekalipun. Kemarin kami diajak oleh salah satu paman istri konsultasi ke salah satu sesepuh Desa Popoh untuk mencari tanggal nikah yang baik bagi adik istri yang Insya Allah akan melangsungkan pernikahan tahun depan. Kuatnya memegang adat istiadat dan tradisi seringkali membuat beberapa urusan seperti menentukan tanggal nikah misalnya begitu menguras pikiran dan bahkan emosi karena harus mempertimbangkan weton dan hari baik dua keluarga 😀

Iklan

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

6 responses »

  1. Iwan Yuliyanto berkata:

    Damai rasanya ya, mas Ihwan.
    Saya juga suka suasana seperti itu. Untuk membunuh rasa kangen suasana itu, saya berkunjung dan nginep ke rumah kakek-nenek di Magetan, rumahnya di pelosok desa, dekat kuburan lagi di atas bukit, yang dibawahnya mengalir sungai yang jernih yang biasa dipakai untuk mandi dan mencuci para penduduk desa.

    • Mr. Moz berkata:

      Enggih Mas, cuman bodohnya saya selama ini kurang maksimal menikmati, kalau lagi di Popoh malah kangen suasana Malang, begitupun sebaliknya. Dasar manusia labil 😀
      waah terdengar sangat damai sekali Mas, apalagi sungainya itu. pasti seru bisa mandi di sungai yg airnya jernih n segar.
      Mas Iwan bukannya asli Surabaya ya?

  2. ibuseno berkata:

    Pernah liat foto2 rumah Ivonne di Popoh, memang damai, sejuk dan menyenangkan, bener2 bisa rest di sana wan..

  3. tinsyam berkata:

    lucu nama kampungnya, popoh, kaya nama temen tuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s