“Mas minta alamat rumahnya, kami mau kirim buku-buku yang diretur.”

Begitulah bunyi pesan yang masuk di chat Mozaik pertengahan bulan yang lalu. Sang pengirim pesan adalah admin distributor yang selama ini mendistribusikan buku-buku Mozaik ke jaringan toko buku nasional di Indonesia.

Saya lalu bertanya:  “Lho emang udah waktunya retur ya Mas?”

“Iya, tiap akhir tahun kami akan meretur buku-buku yang tidak terjual di toko.”

 

Retur, sebuah kata yang sudah akrab di telinga saya semenjak menggeluti dunia penerbitan, khususnya setelah saya mendistribusikan buku-buku Mozaik ke toko-toko buku di Indonesia.

Retur terjadi dengan beberapa sebab antara lain:

  •  Barang rusak atau cacat.
  • Barang tidak sesuai pesanan.
  • Barang tidak laku di toko.

Kebanyakan sih yang dialami oleh penerbit, adalah buku tidak laku di toko. Biasanya pihak toko akan mengevaluasi selama 3 bulan, jika selama periode waktu tersebut tidak ada yang membeli maka sebuah buku akan ditarik dari rak. Jika selama di gudang tidak ada permintaan, maka akan diretur ke distributor.

Tentang resiko ini, sayapun sudah berusaha mencegah agar hal itu tidak terjadi yaitu dengan rajin promosi. Baik itu saya lakukan melalui akun Mozaik, pribadi dan menghimbau kepada para kontributor, jika buku yang dijual adalah buku antologi.

Saya pernah dikirimi sms salah satu penulis Mozaik yang baru saja melihat stok bukunya di salah satu toko buku di Malang.

“Mas, saya tadi ke toko buku dan ternyata bukunya habis. Pas saya tanya ke penjaga toko katanya stoknya emang kosong. Banyak yang beli mungkin ya.”

Mendengar kabar penulis kami yang sangat gembira tersebut, saya berusaha untuk memberikan respon yang obyektif. Saat stok sebuah buku kosong di rak buku, maka ada dua kemungkinan. Yang pertama, bukunya emang habis terjual. Dan yang kedua, bukunya ditarik ke gudang karena tidak laku.

Saya rasa perlu bahkan harus memberitahukan dua kemungkinan tersebut agar penulis saya tidak keburu senang apalagi terbuai dengan ekspektasinya yang tinggi tersebut. Kalau emang benar ya Alhamdulillah, kalau ternyata tidak sesuai ekspektasinya? Pasti penulisnya akan down atau yang lebih parah, menimbulkan kecurigaan adanya penggelapan penjualan yang kami lakukan.

Semua penulis pasti berharap bukunya laku terjual di pasaran, apalagi ketika berada di toko buku. Dibutuhkan modal yang tidak sedikit, mengingat jumlah minimal yang ditetapkan pihak distributor untuk sebuah buku agar bisa didistribusikanke toko buku cukup besar juga. Apalagi bagi penulis indie. Sebagai info saja, di distributor kami untuk bisa masuk di gramedia se Jawa, minimal 500. Itupun tidak semua toko gramed bisa ter-cover.

Namun ketika buku sudah mejeng di rak buku, maka buku tersebut harus siap menghadapi persaingan yang keras dengan buku-buku lainnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat penjualan sebuah buku, mulai dari isi, nama penulis dan penerbit, cover yang kesemuanya itu berimbas pada penempatan buku di rak. Jika anda adalah penulis terkenal, apalagi bukunya diterbitkan penerbit mayor yang sudah mapan maka tak perlu khawatir, buku anda pasti akan mendapatkan tempat yang strategis. Bahkan untuk penerbit besar akan rela merogoh koceknya dengan membuatkan rak khusus jika penulisnya terkenal atau bukunya itu best seller.

Lalu bagaimana dengan buku-buku penerbit kecil atau indie? Yaa dengan berat hati saya bilang, sudah bisa masuk ke toko buku saja itu Alhamdulillah banget. Sebab saya punya temen penerbitan indie yang bukunya ditolak masuk sebuah toko buku karena judul dan covernya yang tidak memenuhi standart toko tersebut. Padahal bukunya sudah dicetak 1000 eksemplar. Sadis ya? Iya memang. Industri buku kita sudah dikuasai oleh kapitalisme, maka mau tidak mau kita harus mengikuti aturan yang ada jika ingin masuk di dalamnya.

Itulah sebabnya kenapa, dalam penentuan judul hingga pembuatan cover dibutuhkan kepekaan dan kreatifitas yang tinggi, apalagi jika buku tersebut hendak dijual di toko buku.Saya tak ragu untuk berdebat bahkan sampai bersitegang dengan penulis atau desainer cover jika menurut saya judul atau covernya kurang menjual.  Jangan bondo nekat deh jika tidak ingin anjlok penjualannya atau bahkan ditolak mentah-mentah.

Ketika semua usaha sudah kita lakukan, mulai dari penentuan judul, pembuatan cover hingga promosi maksimal namun tetap saja buku kita kena retur, lalu apakah yang harus kita lakukan?

Yaa terima saja dengan ikhlas.Mau protes ke distributor apalagi toko buku juga tidak ada gunanya, malah malu-maluin saja.  Bersedih boleh, tapi cukup sebentar saja. Setelah itu bangkit dan pikirkan langkah kreatif apa yang harus kita lakukan untuk menjual buku-buku retur tersebut.

Yang harus kita pahami adalah retur adalah sebuah resiko yang mau tidak mau, suka tidak suka harus kita terima jika kita memutuskan menjual buku di toko buku.

 

Iklan

About Mr. Moz

Berjiwa muda dan semangat dalam berkarya

5 responses »

  1. Robianus supardi berkata:

    Makasih infonya, jadi sedikit tau.

  2. cumakatakata berkata:

    Memang tidak mudah ya Mas… Tp inilah perjuangan…

    bahkan cerita penulis2 papan atas, ada saja ujiannya…

    Sukses selalu !

  3. Lalu Abdul Fatah berkata:

    Sejak punya buku sendiri dan keranjingan main ke toko buku, memerhatikan sekelilingnya, animo pengunjung, dan seterusnya, benar-benar terasa sekali aura persaingan antarbuku. Hehehe…
    Makanya, di zaman sekarang ini, bukan eranya lagi penulis cuma menulis saja. Tapi, dia pun harus gencar berpromosi dengan cara-cara yang kreatif tentu saja.
    Bahkan, Mas Ihwan mungkin pernah tahu ada penulis yang bikin stiker gede di mobilnya tentang bukunya. Intinya, promosi gitu. Keren aja idenya, saya pikir :))

  4. Riva Putra berkata:

    Makasih Infonya Mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s