Pernahkah kalian merasa iri melihat kesuksesan orang lain? Ada perasaan ingin merasakan kesuksesan seperti mereka?
Kalau saya iya! Bahkan sering.
Saya seringkali berujar di dalam hati tatkala melihat kesuksesan orang lain:
“Hmm kapan ya aku bisa kayak gitu?”
“Gimana sih caranya agar bisa kayak mereka?”
Biasanya setelah itu saya akan mencoba mencari tahu bagaimana caranya agar saya bisa meraih kesuksesan sepert mereka, bahkan kalau bisa lebih.
Kalau orangnya saya kenal dekat, maka saya tidak sungkan or malu menanyakan langsung padanya bagaimana agar bisa sukses seperti dia.
Ada yang baik hati membagi rahasia suksesnya namun ada juga yang hanya kasih senyum doang. Saya nggak tahu apa arti senyumnya itu, secara emang hanya via dunia maya sih.
Kalau saya tidak mengenal orangnya maka saya akan coba cari tahu sendiri atau hubungi orang-orang yang saya anggap berkompeten mewujudkan impian saya itu.
Jadi saya nggak hanya sekedar iri bin sirik lalu berharap kesuksesan itu terjadi begitu saja tanpa ada usaha dari saya pribadi. Tidak, kita harus mengolah rasa iri itu menjadi motivasi yang membuat kita bergerak.
Saya akan berbagi satu impian saya yang terwujud karena salah satunya oleh rasa iri saya.
Jadi setahun yang lalu sebelum saya mendirikan Mozaik, saya merasa karier menulis saya benar-benar stagnan. Rasanya susah banget menghasilkan karya lagi. Padahal kerinduan saya pada dunia literasi sudah sangat dalam sekali, saya rindu rasanya menerbitkan buku baru, perasaan lega luar biasa ketika karya kita akahirnya selesai dan diluncurkan ke publik. Saya rindu serunya promosi buku, melakukan talkshow dan bedah dari satu kota ke kota lainnya seperti saat promo novel Xerografer dulu.
Melihat salah satu teman penulis yang disibukkan dengan acara talkshow dan bedah bukunya jadi merasa iri gitu deh, kapan saya bisa kayak gitu lagi.
Rasa iri itu agak terlupakan oleh urusan pribadi yang musti saya selesaikan. Sampai akhirnya saya mendapatkan ilham dari Sang Kuasa untuk mendirikan Mozaik Indie Publisher.
Melalui Mozaik inilah, rasa iri yang dulu hanya bisa saya pendam mendapatkan jalan untuk bisa terwujud.
Saya mulai aktif lagi di dunia literasi, tak hanya menangani naskah saya tapi juga naskah-naskah orang lain. Saya mulai disibukkan dengan kegiatan promosi buku, memang sih talkshow n bedah buku yang saya lakukan baru sebatas lingkup lokal di Malang. Namun itupun sudah sangat menguras energi dan waktu saya. Bahkan Alhamdulillah sekarang saya juga dipercaya memberikan pelatihan menulis di beberapa acara. Saya sadar ilmu saya masih sedikit, namun semoga ilmu yang sedikit itu bisa berguna bila saya bagi pada orang lain.
Kini, ada rasa iri-iri lainnya yang muncul di dalam diri ini. Maaf saya tak bisa membaginya di sini, cukup saya dan orang terdekat saja yang tahu. Biarkan saya berusaha mewujudkannya, kalau berhasil akan saya bagi ceritanya untuk kalian. Kalau gagal, biarlah saya telan sendiri rasa pahit itu he3
So, buat saya mempunyai rasa iri pada kesuksesan orang lain itu sah-sah saja. Malah harus! Asalkan kita mampu mengolah rasa iri itu menjadi energi positif.
*udah berasa kayak motivator aja neh ngomongnya, selfkeplak*

